SUNGGUH SANGAT INDAH DAN DAMAI PIKIRAN KITA BILA DI RUMAH SERING MEMANDANG IKAN HIAS SEBELUM TIDUR......, PELEPAS KEPENATAN..........!
FARMING SYSTEM IS A BASIC TOURISM AT SUNDANESE CULTURE. this blog present for all people,to need farming system in INDONESIAN.
SUNGGUH SANGAT INDAH DAN DAMAI PIKIRAN KITA BILA DI RUMAH SERING MEMANDANG IKAN HIAS SEBELUM TIDUR......, PELEPAS KEPENATAN..........!
Departemen Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan setelah tahun 1995 mengembangkan proyek domba yang disebut Sentra Pengembangan Agribisnis Komoditas Unggulan Domba (SPAKU ternak Domba) di Sumatera Utara (Kab. Langkat) dan Jawa Barat (Kab. Garut). Proyek SPAKU ternak Domba diarahkan untuk mengembangkan sentra-sentra produksi yang berorientasi agrobisnis modern.
Pola penyebaran domba kepada kelompok peternak tradisional dilaksanakan oleh Dinas Peternakan melalui dua bentuk yaitu :
1. Gerbang rukan (Gerakan Pengembangan Rumah Kandang) dimana rumah dan kandang milik peternakan peserta kelompok berada dalam lahannya. Pola gerbang rukan adalah kelanjutan dari pola pemeliharaan domba secara tradisional. Tujuan dengan pola ini untuk meningkatkan jumlah ekor domba milik masing-masing peserta kelompok, supaya usaha domba menjadi usaha sampingan bersifat semikomersial.
2. Gerbang Anak Desa (Gerakan Pengembangan Areal Peternakan Pedesaan) adalah satu sistem pemeliharaan ternak domba dalam kandang milik peternak anggota kelompok yang letaknya terpisah dari pemukiman/perumahan peserta kelompok. Oleh karena itu diperlukan lahan khusus untuk pemeliharaan domba. Biasanya dipergunakan tanah/fasilitas umum atau tanah milik desa yang dibangun untuk usaha peternakan domba secara bersama-sama. Tujuan dengan pola gerbang anak desa adalah pendekatan agribisnis, yaitu mengembangkan usaha ternak domba modern yang memanfaatkan tenaga kerja maupun sarana produksi serta teknologi pemeliharaan domba adaan induk dan pejantan domba maupun sarana produksi lainnya, seperti bahan bangunan kandang, konsentrat, obat-obatan, memasarkan hasil produksi domba oleh mitra usahanya serta mengadministrasi kredit untuk mengembangkan usaha domba milik anggota kelompok peserta proyek kemitraan terpadu. Dalam hal ini koperasi akan bekerjasama dengan instansi lainnya, misalnya para pedagang domba, Dinas Peternakan, rumah potong hewan (RPH).
Proyek ini akan melibatkan ketiga pelaku yaitu koperasi primer, para peternak domba anggota koperasi dan bank pemberi kredit KKPA dalam satu sistem manajemen proyek pemeliharaan domba yang terpadu dimana masing-masing pihak diberikan tugas, wewenang dan tanggung jawab yang dituangkan dalam Nota Kesepakatan terlampir sebagai Lampiran III.
Permasalahan
Sebagian besar penduduk pedesaan bermata pencaharian sebagai petani, baik petani pemilik tanah, penggarap tanah maupun sebagai buruh tani. Berdasarkan tipologi wilayah usaha tani, lahan tani dapat dibagi dua jenis pokok, yaitu lahan yang beririgasi dan lahan kering. Usaha tani yang memliki lahan irigasi menerima pendapatan relatif tinggi dan pasti dibandingkan dengan usaha tani yang memanfaatkan lahan kering.
Rata-rata petani lahan kering memperoleh pendapatan di bawah satu juta rupiah per tahun. Lahan kering cocok untuk usaha ternak baik sapi maupun domba pada umumnya merupakan daerah perbukitan yang terletak di atas 600 meter di atas permukaan laut. Di daerah ini tanah biasanya subur, beriklim sedang (15 s.d. 28OC) dengan curah hujan di atas 2.000 mm per tahun. Namun demikian karena padatnya penduduk, kondisi tanah tersebut sering mengalami erosi karena penggunaan lahan semakin intensif dan kurang memperhatikan kaidah-kaidah usaha tani konservasi.
Ternak domba dan sapi mempunyai kontribusi yang sangat berarti dalam sistem usaha tani di lahan kering, karena ternak mempunyai fungsi ganda, yaitu memberikan nilai tambah dalam pendapatan petani dan dapat meningkatkan produktivitas tanah melalui penggunaan pupuk kandang. Di beberapa daerah lahan kering, usaha peternak domba agak lebih mudah dilaksanakan dengan jumlah biaya lebih rendah, dibandingkan dengan usaha peternakan sapi. Meskipun demikian usaha peternakan domba dilakukan oleh para petani sebagai usaha sampingan dengan teknik pemeliharaan yang bersifat tradisional, lebih banyak diarahkan untuk menghasilkan domba tangkas (aduan) yang konsumennya relatif sedikit. Di ln pihak permintaan daging domba terus meningkat, sehingga dikhawatirkan populasi domba unggulan di Indonesia terkuras apabila tidak ada usaha untuk melestarikannya.
Berdasarkan pertimbangan di atas maka pola pengelolaan usaha domba perlu dikembangkan dari pola tradisional ke pola agribisnis dimana satu kelompok petani bersama koperasinya melaksanakan usaha pemeliharaan domba skala menengah di mana populasi domba per peternak naik rata-rata 3-5 kepala induk sampai 24 kepala domba betina per unit usaha. Kandang dapat dibangun di satu kawasan untuk para peternak yang akan melaksanakan usaha pemeliharaan domba induk dan tersebar untuk para peternak yang akan melaksanakan penggemukan domba dengan dua siklus penggemukan setahun.
Karena populasi domba masih relatif rendah salah satu kegiatan proyek yang diusulkan dalam Model KPKT ini diutamakan untuk memperbesar populasi domba, supaya sasaran jumlah ekor domba per peternak dapat dipenuhi.
© 2003 Jerry Fred Salamena Posted 13 May 2003
Makalah Pengantar Falsafah Sains (PPS702)
Program Pasca Sarjana / S3
Institut Pertanian Bogor
Mei 2003
Dosen: Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng
: Dr.Bambang Purwantara
STRATEGI PEMULIAAN TERNAK DOMBA PEDAGING DI INDONESIA
Oleh:
Jerry Fred Salamena
D 061 020 121 / PTK
jerrysalamena@yahoo.com
Pendahuluan
Ternak lokal atau asli Indonesia merupakan salah satu kekayaan nasional yang tidak kecil artinya, baik dilihat dari segi sumber pendapatan, sumber protein hewani yang murah dan mudah, maupun sebagai sumber tenaga kerja. Banyak diantara ternak lokal atau asli Indonesia yang perkembangannya tidak terlalu menggembirakan, bahkan bila tidak segera ditangani dikhawatirkan mengalami kepunahan. Upaya untuk mempertahankan kelestarian dan kemurnian ternak asli perlu ditangani, karena dalam jenis ternak asli mungkin terkandung gen-gen yang belum tentu dimiliki oleh jenis-jenis ternak impor.
Salah satu di antara plasma nutfah hewani yang perlu dipertahankan eksistensinya adalah ternak domba. Disamping sebagai penghasil daging, kulit, susu, wol, dapat juga dipakai sebagai bahan penelitian atau sebagai bahan rakitan untuk menciptakan kultivar-kultivar (bangsa-bangsa) unggul baru. Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan rumusan kebijaksanaan dan program yang dapat mendorong partisipasi masyarakat yang terlibat dalam pembangunan peternakan baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan memperhatikan kendala yang dihadapi.
Asal Usul Ternak Domba
Domba yang kini dipelihara mempunyai taksonomi sebagai berikut (Piper dan Ruvinsky, 1997) :
Famili : Bovidae
Sub-famili : Caprinae
Genera : Ovis
Grup : Tipe ekor, tipe penutup tubuh.
Pada awal sebelum terjadinya proses domestikasi, domba masih hidup liar di pegunungan. Perburuan hanya dilakukan untuk mendapatkan daging guna pemenuhan hidup sesaat. Pemeliharaan ternak dimulai ketika manusia merasa perlu mempunyai cadangan daging setiap saat diperlukan, sehingga dimulailah pemeliharaan ternak domba yang merupakan awal dari proses domestikasi. Bangsa domba yang dipelihara sekarang ini adalah domba tipe perah, pedaging, dan penghasil wol.
Tidak diketahui secara pasti, kapan domba mulai dipelihara di Indonesia, akan tetapi dengan adanya relief domba di Candi Borobudur (circa 800 SM), menandakan bahwa domba sudah dikenal masyarakat sekitarnya pada saat itu (Ryder, 1983). Domba yang sekarang menyebar di seluruh dunia ini sesungguhnya berasal dari daerah pegunungan Asia Tengah, dimana sebagian menyebar ke arah Barat dan Selatan sehingga dikenal sebagai kelompok urial dan yang lainnya menyebar ke Timur dan Utara yang dikenal sebagai kelompok argali. Terdapat tiga macam domba berdasarkan asalnya (bagian Barat dan Selatan Asia), yaitu Ovis musimon, Ovis ammon, dan Ovis orientalis. Sebelum terjadinya pemisahan daratan antara kepulauan Indonesia dan jazirah Melayu, maka domba yang ada di kawasan tersebut boleh jadi menyebar dari kawasan Asia Tengah (sekarang daerah Tibet, Mongolia), kemudian ke daerah Kamboja, Thailand, Malaysia dan kawasan Barat Indonesia seperti Sumatera yang pada saat itu masih bersatu dengan Malaysia. Hal tersebut terbukti dari jenis domba yang dijumpai di kawasan tersebut adalah dari jenis ekor tipis dengan penutup tubuh berupa rambut.
Pada masa kolonial Belanda, berbagai importasi ternak dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda, diantaranya adalah kambing dan domba, terutama ke pulau Jawa sebagai pusat pemerintahan pada saat itu dan Sumatera Barat dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas domba lokal yang ada (Merkens dan Soemirat, 1926). Selain itu, kedatangan pedagang Arab ke Wilayah Nusantara memberikan kontribusi pada keragaman jenis ternak domba yang ada, yaitu dengan membawa domba ekor gemuk ke propinsi Sulawesi Selatan dan Pulau Madura. Demikian pula setelah masa kemerdekaan, dapat dilihat dari banyaknya importasi jenis domba pada masa Orde Baru dengan tujuan utama meningkatkan produktivitas ternak domba lokal. Bisa disebut antara lain domba yang berasal dari daerah bermusim empat seperti Merino, Suffolk, Dorset, Texel (Natasasmita dkk., 1979), maupun domba dari daerah tropis dengan penutup tubuh berupa rambut, seperti domba St. Croix dan Barbados Blackbelly (Subandryo dkk., 1998).
Keanekaragaman Jenis Domba Indonesia
Domba merupakan ternak yang pertama kali didomestikasi, dimulai dari daerah Kaspia, Iran, India, Asia Barat, Asia Tenggara, dan Eropa samapai ke Afrika. Di Indonesia, domba terkelompok menjadi (1) domba ekor tipis (Javanese thin tailed), (2) domba ekor gemuk (Javanese fat tailed), dan (3) domba Priangan atau dikenal juga sebagai domba garut. Secara umum ketiga jenis domba tersebut dibedakan dengan ciri-ciri sebagai berikut :
Domba ekor tipis. Domba ini merupakan domba yang banyak terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Domba ini termasuk golongan domba kecil, dengan berat potong sekitar 20 – 30 kg. Warna bulu putih dan biasanya memiliki bercak hitam di sekeliling matanya. Ekornya tidak menunjukkan adanya desposisi lemak. Domba jantan memiliki tanduk melingkar, sedangkan yang betina biasanya tidak bertanduk. Bulunya berupa wol yang kasar.
Domba ekor gemuk. Domba ini banyak terdapat di Jawa Timur dan Madura, serta pulau-pulau di Nusa Tenggara. Di Sulawesi Selatan dikenal sebagai domba Donggala. Tanda-tanda yang merupakan karakteristik khas domba ekor gemuk adalah ekor yang besar, lebar dan panjang. Bagian pangkal ekor membesar merupakan timbunan lemak, sedangkan bagian ujung ekor kecil tidak berlemak. Warna bulu putih, tidak bertanduk. Bulu wolnya kasar. Domba ini dikenal sebagai domba yang tahan terhadap panas dan kering. Domba ini diduga berasal dari Asia Barat Daya yang dibawa oleh pedagang bangsa Arab pada abad ke-18. Pada sekitar tahun 1731 sampai 1779 pemerintah Hindia Belanda telah mengimpor domba Kirmani, yaitu domba ekor gemuk dari Persia. Apakah domba ekor gemuk merupakan keturunan dari domba-domba ini, belum diketahui. Bentuk tubuh domba ekor gemuk lebih besar dari pada domba ekor tipis. Domba ini merupakan domba tipe pedaging, berat jantan dewasa antara 40 – 60 kg, sedangkan berat badan betina dewasa 25 – 35 kg. Tinggi badan pada jantan dewasa antara 60 – 65 cm, sedangkan pada betina dewasa 52 – 60 cm.
Domba Priangan. Terdapat di Priangan, yaitu di Bandung, Garut, Sumedang, Ciamis, dan Tasikmalaya. Domba ini dipelihara khusus untuk diadu. Domba priangan bertubuh besar, dahi konveks, tanduk yang jantan besar dan kuat, melingkar seperti spiral. Domba ini diduga diciptakan dari persilangan antara domba Merino dan domba Cape dengan domba lokal sekitar tahun 1864. Namun sekarang sudah tidak ada bekas-bekas dari karakteristik wol domba Merino. Pada domba Priangan, kadang-kadang dijumpai adanya domba tanpa daun telinga. Domba ini sudah terkenal sebagai salah satu domba yang mempunyai angka reproduktivitas tinggi di dunia.
Permasalahan Yang Dihadapi
Beberapa faktor penyebab kepunahan ternak antara lain :
1. Pengrusakan habitat dalam bentuk mengurangi/memusnahkan sumber pakan, perubahan fungsi habitat alaminya.
2. Eksploitasi yang berlebihan dalam bentuk pemotongan/pengeluaran ternak yang tidak terkendali.
3. Introduksi jenis asing dalam bentuk persilangan antar bangsa yang berbeda tanpa adanya pengendalian, sehingga terjadi erosi sumberdaya genetik ternak.
Ternak domba saat ini telah memiliki pangsa pasar tersendiri, dan permintaan di dalam negeri masih dapat dicukupi oleh produk domestik. Akan tetapi peluang ekspor ke kawasan Asean atau Timur Tengah masih terbuka, dan kemungkinan terjadinya lonjakan permintaan untuk keperluan qur’ban juga sangat besar. Di lain pihak peluang ini juga mendapat ancaman dari serbuan produk dari negara tetangga, maupun kemungkinan “banjir” daging beku dari kawasan bebas penyakit berbahaya. Oleh karena itu perlu terus diupayakan untuk meningkatkan daya saing produk domba, antara lain dengan memperbaiki mutu genetik ternak lokal.
Langkah ini juga harus memperhatikan kondisi peternak kecil yang saat ini mendominasi usaha breeding dan penggemukan domba. Sebagaian besar peternak masih mengandalkan keramahan alam dan lingkungan, sehingga usahanya masih jauh dari sentuhan teknologi. Secara alami beberapa galur lokal mempunyai keistimewaan dalam hal tingkat reproduksi (beranak 3 kali dalam 2 tahun; litter size besar), daya tahan terhadap serangan cacing, serta mempunyai kualitas kulit dan karkas yang memadai. Konsumen, dalam hal ini jagal atau penjual sate, menginginkan ternak dengan ukuran dan kualitas tertentu (kecil, gemuk dengan marbling cukup dan berdaging empuk), dan di setiap daerah ada sedikit perbedaan preferensi (Kombit TN, 2002).
Di samping itu dalam pengelolaan sumberdaya genetik (SDG) ternak, khususnya upaya meningkatkan mutu genetik melalui seleksi maupun persilangan terdapat beberapa masalah yang dihadapi, yaitu :
1. Belum adanya program breeding yang jelas.
2. Kegiatan IB diduga telah mengakibatkan peningkatan inbreeding karena penggunaan pejantan dalam kurun waktu yang lama.
3. Perda atau kebijakan yang dijalankan di beberapa daerah sumber bibit, dikhawatirkan telah mengakibatkan terjadinya seleksi negatif (ternak yang mempunyai ukuran besar terjual yang sisa hanya yang ukuran kecil).
Kebijakan Konservasi dan Strategi Pemuliaan
Semula konservasi hewan hanya diartikan sebagai upaya pelestarian hewan liar, dan hanya ditangani oleh Departemen Kehutanan karena habitat hewan yang akan dikonservasi berada di hutan. Namun dalam perkembangan selanjutnya, konservasi dikaitkan dengan ekosistem dan upaya-upaya mempertahankan keberadaan hewan dan ternak yang ada. Kebijaksanaan pemerintah yang berlandaskan pada konsep-konsep konservasi, yang telah dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan adalah : (1) adanya kebijakan pewilayahan ternak, dan (2) telah diaturnya teknik pelestarian ternak rakyat melalui metode pola PIR. Program pewilayahan ternak berfungsi untuk relokasi dan penyebaran ternak sehingga mencegah terjadinya penghancuran materi genetik. Pembagian wilayah dibagi atas wilayah sumber bibit, wilayah produksi, dan wilayah konservasi.
A. Kebijakan Perwilayahan Ternak
Wilayah Sumber Bibit
Wilayah sumber bibit merupakan wilayah pengembangan ternak domba secara murni. Pada wilayah sumber bibit dilakukan pelestarian secara in-situ dengan menutup wilayah tersebut terhadap pemasukan bangsa domba lain maupun bangsa yang sama dari wilayah lain. Pelestarian ex-situ dapat dilakukan dengan menetapkan pulau atau wilayah tertentu diluar habitat aslinya menjadi sumber bibit bangsa murni.
Upaya perbaikan mutu genetik untuk peningkatan produktivitas domba dilakukan melalui program seleksi dalam bangsa. Dalam upaya mempertahankan mutu genetik di berbagai daerah sumber bibit perlu dilakukan :
a. Perhitungan secara tepat jumlah serta mutu bibit yang dapat dikeluarkan, seimbang dengan jumlah mutu bibit yang perlu dipertahankan sebagai ternak pengganti.
b. Penentuan standart mutu bibit lokal maupun nasional yang sesuai dengan karakteristik bangsa domba lokal dengan melibatkan asosiasi-asosiasi peternakan rakyat.
c. Pelestarian dengan teknologi mutakhir, misalnya dengan pengawetan semen dan embrio melalui proses pembekuan dan penyimpanannya pada bank plasma nutfah, didukung oleh program inseminasi buatan (IB) dan embrio transfer (ET) yang terencana dan dianggap layak, merupakan kemungkinan lain yang perlu mendapat perhatian pemerintah dan swasta.
Wilayah Produksi
Wilayah produksi berfungsi sebagai wilayah pengembangbiakan untuk tujuan komersil, yang memungkinkan menggunakan teknik-teknik perkawinan silang dan penggemukan. Persilangan (Crossbreeding) merupakan salah satu cara untuk peningkatan mutu genetik domba yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas. Usaha “ranch” dan penggemukan dapat dilakukan terhadap bangsa murni maupun hasil persilangan. Umumnya usaha penggemukan menguntungkan bila didukung oleh kebijaksanaan harga bibit yang menarik.
Wilayah Konservasi
Wilayah konservasi hanya dibutuhkan untuk menangkarkan bangsa domba asli yang masih ada atau mengembangbiakan hasil dari wilayah sumber bibit.
B. Pelestarian Ternak Dengan Pola PIR
Melalui pola PIR, diharapkan program seleksi dapat dijalankan dengan penegndalian pada pemilikan pejantan unggul, yaitu dengan penggunaan Uji Performa dan Uji Zuriat. Untuk pemilikan induk ditekankan pada kemurniaan bangsanya dan performa reproduksinya. Konsep pelestarian domba lokal dengan pola PIR dapat dijelaskan melalui bagan Gambar 1.
PEJANTAN UNGGUL
SEMEN BEKU
SAPIHAN
PILIHAN
UJI
PERFORMAN
KANDIDAT
PEJANTAN
UJI
<
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal.
1/ 2 Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340 Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
Ternak domba berproduksi optimal
1) Jenis domba asli di Indonesia adalah domba ekor tipis, Domba ekor gemuk dan Domba garut
Ternak domba menyukai macam-macam daun-daunan sebagai pakan dasar dan pakan tambahan (konsentrat). b. Pakan tambahan dapat disusun (bungkil kalapa, bungkil kedelai), dedak, tepung ikan ditambah mineral dan vitamin. c. Pakan dasar umumnya adalah rumput kayangan, daun lamtoro, gamal, daun nangka, dsb. d. Pemberian hijauan sebaiknya mencapai 3 % berat badan (dasar bahan kering) atau 10 - 15 % berat badan (dasar bahan segar)
4) Pemberian pakan induk Selain campuran hijauan, pakan tambahan perlu diberikan saat bunting tua dan baru melahirkan, sekitar 1 1/2 % berat badan dengan kandungan protein 16 %.
5) Kandang Pada prinsipnya bentuk, bahan dan konstruksi kandang kambing berukuran 1 1/2 m2 untuk induk secara individu. Pejantan dipisahkan dengan ukuran kandang 2 m2, sedang anak lepas sapih disatukan (umur 3 bulan) dengan ukuran 1 m / ekor. Tinggi penyekat 1 1/2 - 2 X tinggi ternak.
6) Pencegahan penyakit : sebelum dikandangkan, domba harus dibebaskan dari parasit internal dengan pemberian obat cacing, dan parasit eksternal dengan dimandikan.